Berita  

[Update] Rush Money Ala Muhammadiyah, Siapkah BSI?

Oleh: Budi Saks

PERNAHKAH anda membaca berita atau mengalami sendiri ketika seorang nasabah kelas kakap akan menarik semua tabungannya dari suatu bank, maka ternyata pihak bank tak dapat memenuhinya karena ternyata uangnya tidak ada di bank/cabang bank tersebut?

Sering terjadi atau malah selalunya nasabah kakap yang menyimpan dalam jumlah besar uangnya di bank malah tak bisa menarik semua uangnya, padahal itu adalah haknya dan berjenis tabungan biasa non deposito yang seharusnya bisa diambil sewaktu waktu dan ditarik bahkan tutup rekening sewaktu-waktu pula.

Kenapa begitu?

Karena sebetulnya uang nasabah terutama yang dalam nominal besar itu tidak disimpan dalam arti ditaruh di suatu brankas atau tempat yang aman di bawah pengawasan pihak bank, namun diputar oleh pihak bank dengan dipinjamkan sebagai modal kepada para pengusaha kelas atas hingga konglomerat sebagai tambahan modal usaha dan investasi mereka dalam melakukan pengembangan dan ekspansi bisnis mereka.

Sedang uang nasabah yang bisa ditarik hanya uang kelas “recehan” saja untuk kebutuhan harian bulanan para nasabah.

Bukan rahasia juga dikalangan pebisnis bila yang mendapat privilege untuk mengakses pinjaman dengan nilai besar bin fantastis dari perbankan adalah pebisnis-pebisnis yang bermata sipit. (no racis just fact).

Jadi bila ada film yang menggambarkan adegan perampokan bank yang berhasil membawa berkarung-karung uang itu sebetulnya adalah bentuk pembodohan saja sebab sejatinya bank tidak menyimpan uang anda selain disisakan sedikit yang kira-kira diperlukan untuk ditarik sewaktu-waktu oleh golongan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Ilustrasi pada beberapa paragraf diatas adalah gambaran yang sedang terjadi saat ini ketika organisasi keagamaan terkaya dan termaju Indonesia yaitu Muhammadiyah mengumumkan akan menarik seluruh dananya yang mereka simpan di BSI (Bank Syariah Indonesia), bank syariah milik pemerintah gabungan dari tiga bank syariah plat merah BNI, Mandiri dan BRI.

Jumlah yang ditarik keseluruhannya senilai Rp 13 triliun yang setelah dihitung lagi total mencapai Rp 15 triliun nilai dana milik persyarikatan Muhammadiyah yang akan ditarik dari BSI.

Rush Money ala Muhammadiyah ini jelas membuat panik pihak BSI yang sampai saat ini belum memberikan pernyataan resmi dan mengagetkan dunia perbankan regional mengingat besaran nilainya.

Pimpinan Muhammadiyah lewat ketua umumnya Haedar Nashir dan sejumlah jajaran PP Muhammadiyah menyampaikan tujuan penarikan karena alasan untuk meratakan keadilan ekonomi dan mengurangi risiko persaingan tidak sehat dengan menarik dananya yang tadinya hanya terpusat disimpan di BSI lalu membaginya dengan disimpan di beberapa bank syariah lainnya terpisah secara merata.

Tapi tentu saja itu cuma bahasa diplomatis. Bahasa tingkat tinggi kaum intelektual yang tak dipahami semua kalangan awam yang tujuannya untuk meredam kesan konflik dan menjaga marwah intitusi lain walau sudah tak sepihak sejalan.

Yang sebetulnya terjadi adalah para pimpinan dan pemikir Muhammadiyah kecewa karena BSI lebih mementingkan perputaran dana untuk kepentingan para pengusaha kelas kakap dan golongan konglomerat, sedang porsinya untuk pengembangan UKM/UMKM jauh lebih kecil padahal Muhammadiyah selain sebagai gerakan dakwah namun juga sebagai gerakan kebangkitan ekonomi pribumi seperti spirit awal KH Ahmad Dahlan yang terus diwariskan oleh pengurus-pengurus Muhammadiyah sangat tidak keberatan bila dana raksasa yang mereka amanahkan dipergunakan untuk penguatan sektor UKM/UMKM tanah air.

Selain itu para para pengamat atau sebut saja analis intelijen dari internal Muhammadiyah juga membaca adanya sebuah proses penempatan agen-agen dari kekuatan konglomerasi tertentu ke dalam jajaran komisaris dan direksi bank tersebut yang kemungkinan besar mengincar aset perbankan milik Muhammadiyah dengan menguasai akses manajerialnya.

Bahkan dulu pernah Wagub Jabar Dedy Mizwar memberi semacam bocoran kalau salah satu pentolan 9 naga si James Riyadi gusar bagaimana lembaga dakwah non profit seperti Muhammadiyah bisa memiliki aset lebih besar dari seluruh jaringan bisnisnya di group Lippo. Hal yang membuat JR maupun TW tak bisa “membeli” Muhammadiyah terutama untuk mendukung pilihan politik yang didukung 9 naga seperti organisasi keagamaan lainnya yang sangat menikmati semua fasilitas dan panggung sosial, politik, ekonomi selama sepuluh tahun/dua periode rezim terakhir ini.

Muhammadiyah benar benar tak terbeli!

Muhammadiyah benar-benar tak bergeming oleh rayuan rayuan politik 9 naga itu.

Dan yang terakhir dan paling dikhawatirkan banyak pihak adalah bahwa rush money Muhammadiyah ini sebetulnya adalah langkah awal dari rencana persyarikatan untuk membangun bank sendiri yang artinya Bank Muhammadiyah sedang dalam agenda yang mulai akan dijalankan sebab memang sudah selayaknya Persyarikatan Muhammadiyah mempunyai lembaga perbankan sendiri sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang mandiri dari pemerintah dan bermanfaat bagi semua umat entah dari organisasi manapun dan agama apapun.

Lagi pula Muhammadiyah sudah memenuhi semua syarat dan kapasitas untuk memiliki sebuah lembaga perbankan sendiri bukan?

Dan sesuai edaran yang telah dikeluarkan oleh PP Muhammadiyah kepada seluruh rektor kampus-kampus Muhammadiyah, AUM dan seluruh pengurus aset Muhammadiyah untuk mulai melakukan penarikan dan penutupan rekening di BSI, maka kita saksikan saja sambil mendoakan agar proses rush money ini bisa berjalan lancar tanpa hambatan.

Karena jangan-jangan BSI tidak sanggup segera mencairkan seluruh dana milik Muhammadiyah dan sibuk mencari pinjaman dari bank-bank lainnya buat memenuhi perintah penarikan tutup buku organisasi terkaya, terkuat dan termodern ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *